Dokter Ungkap Waktu Tepat dan Tanda Cek Kesuburan Pasangan

Share

Skrining kesuburan bersama pasangan menjadi langkah awal yang disarankan sebelum memulai program kehamilan. Pemeriksaan medis ini membantu mengidentifikasi kondisi reproduksi kedua pihak sejak dini. Permasalahan kesuburan sering kali tidak menunjukkan gejala khas secara fisik.

Bagi banyak pasangan, tanda awal gangguan reproduksi baru terdeteksi saat kehamilan belum terwujud meskipun rutin berhubungan seksual tanpa pengaman. Dilansir dari HaiBunda, dokter spesialis kesuburan dari Birla Fertility & IVF Mumbai, Dr Navina, menjelaskan bahwa batasan usia menentukan kapan seseorang harus berkonsultasi ke dokter.

Wanita berusia di bawah 35 tahun disarankan berkonsultasi setelah mencoba hamil selama 12 bulan. Sementara itu, bagi wanita berusia 35 tahun ke atas, jangka waktu yang direkomendasikan adalah enam bulan.

Beberapa kondisi medis memerlukan evaluasi lebih cepat tanpa memandang usia. Faktor tersebut meliputi siklus menstruasi tidak teratur, PCOS, endometriosis, disfungsi tiroid, cadangan ovarium rendah, hingga tuba falopi tersumbat. Pemeriksaan awal juga dibutuhkan jika ada riwayat kelainan rahim, operasi panggul, atau mengalami keguguran berulang sebanyak dua kali atau lebih.

"Dengan mengenali hal-hal ini sejak dini adalah sebuah awal yang baik bukan sebuah kemunduran. Ini artinya perawatan dapat dimulai lebih cepat," kata Dr Navina seperti dikutip dari laman The Health Site.

Pemeriksaan kesuburan wajib dilakukan oleh kedua belah pihak. Evaluasi pada pria bertujuan mendeteksi riwayat cedera, operasi testis, perubahan fungsi seksual, testis tidak turun, pengobatan kanker, hingga analisis kualitas semen. Rangkaian tes kesuburan yang umumnya dijalani pasangan meliputi pengujian AMH, cek hormon, USG, penilaian saluran tuba, dan analisis semen. Hasil pengujian ini menentukan langkah penanganan medis selanjutnya.

Meskipun tidak selalu kasat mata, ada beberapa indikasi yang menjadi tanda agar pasangan segera memeriksakan diri ke dokter spesialis: 1. Mengalami keguguran sebanyak dua kali atau lebih. 2. Siklus menstruasi tidak teratur atau tidak mengalami haid.

3. Terindikasi mengalami endometriosis atau kerusakan saluran tuba.

4. Memiliki cadangan ovarium yang rendah. 5. Adanya kelainan pada kondisi rahim atau faktor genetik. 6. Hasil analisis semen abnormal, ada riwayat cedera, infeksi, atau operasi testis.

Pemeriksaan medis awal tidak selalu berujung pada prosedur bayi tabung (IVF). Banyak pasangan berkonsultasi untuk mendapatkan kepastian informasi medis agar dapat menentukan langkah penanganan yang tepat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author