Warga Bangladesh Tewas Dikeroyok Akibat Ejekan Penalti Lionel Messi

Share

Seorang pengemudi becak motor bernama Mohammed Shariful Islam tewas setelah menjadi korban pengeroyokan di sebuah warung teh di Cumilla, Bangladesh, pada Selasa (7/7), yang dipicu oleh ejekan terkait kegagalan penalti Lionel Messi. Peristiwa tragis ini dilansir dari Detikcom, di mana insiden maut tersebut bermula dari sebuah perdebatan mengenai pertandingan sepak bola antara Argentina melawan Mesir yang kemudian memuncak menjadi aksi kekerasan fisik. Dalam laga tersebut, Mesir memimpin lewat gol Yasser Ibrahim pada menit ke-15, lalu Argentina mendapatkan peluang emas melalui penalti Lionel Messi pada menit ke-21 yang berhasil digagalkan oleh penjaga gawang Mostafa Shobeir.

Penanggung jawab Pos Polisi Nazira Bazar, Shankar Kumar Das menyatakan bahwa keributan hebat di antara para penonton yang berada di lokasi kejadian langsung pecah sesaat setelah kapten timnas Argentina tersebut gagal mengeksekusi penalti.

Berdasarkan keterangan saksi mata yang berada di lokasi, korban yang merupakan pendukung timnas Mesir spontan melontarkan kalimat ejekan yang ditujukan langsung kepada para pendukung timnas Argentina setelah penyelamatan gemilang kiper terjadi. "Bapakmu enggak bisa cetak gol (your father could not score a goal)," ujar saksi itu menirukan Shariful.

Situasi di warung teh tersebut kemudian berubah menjadi sangat panas, hingga akhirnya dua warga lokal yang diidentifikasi sebagai Babu dan Main Uddin Malu diduga melakukan penganiayaan berat dengan memukul bagian kepala korban. Shariful sempat dievakuasi oleh warga sekitar ke Rumah Sakit Perguruan Tinggi Kedokteran Cumilla untuk mendapatkan pertolongan medis, namun pihak rumah sakit kemudian menyatakan bahwa pria berusia 35 tahun tersebut telah meninggal dunia.

Istri korban, Beauty Banu, menyampaikan rasa duka yang sangat mendalam atas kepergian suaminya yang meninggalkan dua orang anak perempuan yang kini berstatus sebagai anak yatim. "Bagaimana mungkin orang membunuh seseorang hanya karena pertandingan sepak bola? Saya punya dua anak perempuan.

Siapa yang akan mereka panggil ayah sekarang? Kedua anak perempuan saya telah menjadi yatim piatu," kata sang istri. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit membuat ibu dua anak ini merasa sangat kebingungan untuk melanjutkan kehidupan dan membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran sosok suami.

"Saya menginginkan hukuman terberat bagi mereka yang membunuh suami saya. Saya adalah wanita miskin dan tak berdaya. Bagaimana saya akan membesarkan kedua anak perempuan saya sekarang? Seluruh keluarga saya telah hancur," ujarnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author