Warga Jabodetabek Padati Tempat Wisata Jakarta Selama Libur Idul Adha

Share

Sejumlah warga dari kawasan Jabodetabek memadati berbagai tempat wisata di Jakarta untuk memanfaatkan momen libur panjang dan cuti bersama Idul Adha pada Kamis (28/5/2026).

Dilansir dari Detikcom, Taman Margasatwa Ragunan (TMR) di Jakarta Selatan mencatat belasan ribu orang berkunjung hingga sore hari, dengan area kandang gajah menjadi salah satu lokasi favorit yang paling banyak didatangi warga.

Kepala Humas Ragunan, Wahyudi Bambang, menjelaskan bahwa jumlah pengunjung pada hari tersebut mengalami peningkatan dibandingkan hari sebelumnya yang tercatat sebanyak 15.484 orang.

"Data Pengunjung libur Idul Adha dan Cuti bersama. Tanggal 28 Mei 16.810 (pengunjung) jam 15.00 WIB," kata Bambang.

Pihak pengelola Ragunan juga memproyeksikan total kunjungan masyarakat akan terus bertambah seiring masih berlangsungnya masa libur bersama.

"Prediksi (pengunjung) 35.000, dua hari," tutur Bambang.

Sementara itu, kawasan Monumen Nasional (Monas) di Jakarta Pusat juga menjadi tujuan rekreasi warga yang ingin menikmati suasana liburan dengan biaya terjangkau bersama keluarga.

Salah satu pengunjung asal Bekasi, Siti Aisyah (38), memilih Monas untuk menyelenggarakan piknik keluarga karena lokasi tersebut dinilai dekat dan ramah di kantong.

"Karena anak-anak lagi libur panjang juga, jadi sekalian jalan-jalan ke Jakarta. Monas kan dekat, murah juga masuknya, dan memang sudah lama anak-anak minta ke sini," kata Siti.

Siti menambahkan bahwa keputusan berlibur kali ini diambil karena seluruh prosesi penyembelihan hewan kurban di rumahnya telah rampung diselesaikan pada hari sebelumnya.

"Biasanya kalau libur Idul Adha kami di rumah saja habis motong kurban, tapi sekarang karena sudah selesai semua dari kemarin, hari ini kami manfaatkan buat rekreasi keluarga," ujar Siti.

Guna menghindari kemacetan arus lalu lintas, Siti beserta rombongan sengaja berangkat sejak pagi hari dan langsung menggelar tikar di area Monas.

"Takut macet sama ramai, jadi sengaja pagi. Sampai sini sekitar jam 08.00-an. Ternyata memang sudah ramai, tapi masih nyaman buat cari tempat duduk sama gelar tikar," ucap Siti.

Selain bersantai, keluarga tersebut juga membawa perbekalan sendiri dari rumah berupa hidangan semur yang diolah menggunakan daging kurban.

"Iya, sengaja banget bawa bekal. Kalau ke Monas memang lebih enak bawa bekal sendiri. Ada nasi, semur daging, kerupuk, sambal, sama minuman dingin juga wajib karena panas banget cuacanya hari ini," tutur Siti.

Hidangan khas tersebut disiapkan oleh keluarganya pada malam hari sebelum mereka berangkat menuju Jakarta.

"Iya benar, daging kurbannya dimasak dulu semalam," ungkap Siti.

Bagi Siti, membawa bekal makanan sendiri dari rumah dinilai jauh lebih hemat dan sesuai dengan selera seluruh anggota keluarga besar.

"Pertama hemat ya, apalagi kalau keluarga besar lumayan juga kalau beli semua. Kedua, kami memang pengin makan masakan rumah," jelas Siti.

Siti juga merasakan bahwa kondisi Monas pada hari itu tergolong lebih nyaman bagi anak-anak untuk beraktivitas dibanding hari libur nasional lainnya.

"Sepi ya, nggak kayak liburan biasanya. Tapi malah enak begini. Anak-anak senang karena bisa lari-larian, foto-foto," ujar Siti.

Rombongan keluarga ini berencana menutup agenda liburan mereka dengan mengunjungi Lapangan Banteng sebelum kembali pulang ke Bekasi.

"Mungkin cari es krim dulu buat anak-anak, pengin ke Lapangan Banteng, habis itu pulang. Soalnya besok sudah mulai aktivitas lagi. Yang penting hari ini anak-anak happy dan bisa quality time keluarga," tutup Siti.

Destinasi lain yang dipadati warga adalah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur, yang menyajikan berbagai atraksi kebudayaan Nusantara bagi para pengunjung.

Seorang warga Bekasi, Dedi Saputra (41), sengaja membawa anak-anaknya ke TMII dengan tujuan memadukan unsur rekreasi dan sarana edukasi kebudayaan daerah.

"Karena momen libur Idul Adha ini lumayan panjang ya, jadi saya sama keluarga cari tempat yang bisa sekalian jalan-jalan tapi juga ada unsur edukasinya buat anak-anak. Tadinya pengin ke Bogor cuma ngeri macet kan," kata Dedi.

Dedi menganggap TMII sebagai tempat yang tepat untuk memperkenalkan ragam adat istiadat Indonesia kepada anak-anaknya yang baru pertama kali berkunjung.

"TMII kan lengkap ya, bisa lihat budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Kebetulan anak-anak juga belum pernah ke sini, jadi sekalian mengenalkan budaya Nusantara. Daripada cuma ke mal, saya pikir lebih bagus ke tempat yang ada nilai pengetahuannya," ujar Dedi.

Saat berkeliling, perhatian keluarga Dedi tersita oleh kerumunan penonton yang sedang menyaksikan pertunjukan tradisi lompat batu asal Nias.

"Tadi kami nonton atraksi lompat batu dari Nias. Kebetulan pas lewat terus lihat ramai, akhirnya berhenti dan ikut nonton. Kan penasaran juga karena belum pernah lihat atraksi seperti itu secara langsung," tutur Dedi.

Dedi mengaku terkesan secara langsung karena ketegangan pertunjukan tersebut terasa sangat berbeda dibandingkan saat melihatnya melalui layar kaca.

"Seru banget sih, jujur kagum juga. Kalau lihat di TV atau media sosial mungkin biasa, tapi pas lihat langsung ternyata tinggi batunya lumayan dan butuh keberanian besar," kata Dedi.

Pertunjukan fisik tersebut memicu rasa ingin tahu anak-anaknya yang kemudian bertanya mengenai teknik melompati batu tanpa terjatuh.

"Anak-anak juga sampai nanya itu gimana loncatnya, kok nggak jatuh," kata Dedi.

Dedi menilai kehadiran atraksi kebudayaan langsung seperti ini memberikan dampak positif yang besar terhadap pengetahuan anak-anaknya.

"Senang banget. Mereka tadi malah minta direkam videonya buat dikirim ke kakek nenek di rumah. Setelah nonton, mereka jadi banyak tanya soal Pulau Nias dan tradisi di sana. Saya rasa ini bagus ya, jadi liburan nggak cuma senang-senang tapi anak juga belajar sesuatu," jelas Dedi.

Dedi berharap pihak manajemen TMII dapat terus mempertahankan pertunjukan seni tradisional tersebut agar tetap dikenal oleh generasi muda Indonesia.

"Bagus ya, karena nggak semua orang bisa datang langsung ke daerah asal budayanya. Kita kan jadi bisa tahu budaya Indonesia lebih dekat. Apalagi generasi sekarang kan lebih banyak lihat budaya luar, jadi budaya sendiri juga harus sering diperlihatkan supaya tetap dikenal," imbuh Dedi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author