Dokter Imbau Waspadai Kandungan Garam Tersembunyi dalam Makanan
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kandungan natrium tersembunyi pada makanan dan minuman yang memicu lonjakan tekanan darah tinggi. Imbauan ini disampaikan di Kabupaten Tangerang pada Senin (18/5/2026) sebagai bentuk pencegahan penyakit kardiovaskular.
Kandungan zat tersebut sering kali tidak disadari oleh masyarakat karena tidak selalu memberikan rasa asin yang kuat. Hal ini dilansir dari Detik Health berdasarkan penjelasan medis mengenai penyamaran molekul natrium dalam produk konsumsi harian.
Prof Dr dr Antonia Anna Lukito, SpJP(K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FSCAI dari Siloam Hospitals Lippo Village menjelaskan bahwa acuan pembatasan asupan harian telah dikeluarkan oleh organisasi profesi terkait.
"Ya memang dari Perhimpunan Hipertensi Indonesia (PERHI) juga menyarankan asupan garam sebaiknya 2,5 gram per hari," kata Prof Antonia.
Edukasi mengenai sifat zat ini sangat penting karena persepsi keliru di masyarakat sering kali membuat mereka hanya menghindari makanan yang terasa asin di lidah. Zat pengawet hingga penyedap rasa menjadi beberapa sumber yang kerap diabaikan.
"Jangan lupa ya, garam itu tidak selalu asin. Banyak orang terjebak kalau asin takut, sehingga ngurangi asin. Padahal banyak bahan pengawet, penyedap, bahkan pada minuman bersoda itu mengandung garam," sambung Prof Antonia.
Pemeriksaan label gizi pada bagian belakang kemasan produk menjadi langkah antisipasi yang disarankan olehnya. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, konsumsi zat ini secara berlebihan berisiko tinggi memicu hipertensi yang menjadi faktor utama stroke serta penyakit jantung.
Kementerian Kesehatan RI menetapkan batas aman konsumsi harian per orang sebesar 2.000 miligram natrium atau setara 5 gram garam. Selain itu, otoritas kesehatan juga membatasi konsumsi gula maksimal 50 gram dan lemak sebanyak 67 gram per hari.