WHO Batasi Penggunaan Obat Ebola Baru di Kongo dan Uganda
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO meminta agar pemberian obat-obatan yang sedang dikembangkan untuk mengatasi dan mencegah infeksi virus Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda dibatasi. Penasihat WHO menilai bahwa obat tersebut lebih baik hanya diberikan sebagai bagian dari uji klinis, bukan untuk pengobatan massal, seperti dikutip dari Bloombergtechnoz.
Keputusan ini berpotensi membuat pasien dan suspek virus Ebola di kedua negara tersebut kesulitan mendapatkan akses obat. WHO menjelaskan bahwa pengembangan obat Ebola sangat sulit dilakukan karena wabahnya muncul secara sporadis, sering terjadi di daerah terpencil, dan membunuh penderita dalam waktu sangat cepat.
Beberapa kelompok penasihat ahli dikumpulkan oleh WHO untuk mengevaluasi obat potensial bagi strain Bundibugyo yang saat ini sedang beredar.
"digunakan secara eksklusif dalam uji klinis untuk menghasilkan data yang kuat dan memastikan penelitian yang aman, etis, dan efektif," kata organisasi tersebut.
Langkah rekomendasi ini berpeluang menemui hambatan karena Amerika Serikat sudah memiliki rencana untuk menyediakan antibodi monoklonal bagi warganya yang terinfeksi. Perawatan tersebut akan disiapkan di fasilitas di Kenya untuk merawat warga Amerika Serikat yang terpapar virus, menurut penjelasan seorang pejabat Gedung Putih dalam panggilan bersama wartawan pada Kamis.
Para penasihat kesehatan masyarakat menilai pengobatan yang tengah dikembangkan oleh Mapp Biopharmaceutical Inc., Regeneron Pharmaceuticals Inc., dan Gilead Sciences Inc. sebagai produk yang menjanjikan.
"cukup menjanjikan sehingga layak diprioritaskan untuk dievaluasi dalam uji klinis," kata WHO dalam sebuah email.
Pihak Regeneron menyatakan bahwa mereka sedang bekerja secepat mungkin untuk menyiapkan pasokan obat antibodi mereka, maftivimab, agar bisa digunakan dalam uji klinis mendatang. Obat ini diklaim telah menunjukkan aktivitas netralisasi yang luas dalam studi laboratorium terhadap strain Bundibugyo, berdasarkan pernyataan resmi perusahaan.
Sementara itu, pihak Mapp yang juga tengah mengembangkan antibodi monoklonal memilih untuk menolak memberikan komentar.
Menurut WHO, antibodi monoklonal tersebut kemungkinan juga bermanfaat apabila dikombinasikan dengan pil antivirus Veklury (remdesivir) buatan Gilead, sehingga kombinasi ini perlu dievaluasi lebih lanjut.
"sedang menjajaki cara-cara potensial untuk mendukung upaya respons bersama otoritas kesehatan dan regulasi yang relevan," kata perusahaan tersebut dalam sebuah pernyataan.
"Setiap keputusan terkait partisipasi dalam penelitian klinis atau dukungan potensial untuk uji klinis akan dipandu oleh kebutuhan kesehatan masyarakat, bukti ilmiah, dan koordinasi dengan otoritas yang berwenang."
Upaya pencegahan infeksi juga mencakup kandidat vaksin yang sedang dikembangkan oleh International AIDS Vaccine Initiative. Namun, WHO menyatakan bahwa vaksinasi tersebut diperkirakan membutuhkan waktu tujuh hingga sembilan bulan sebelum siap masuk ke tahap uji klinis.
Vaksin lainnya, yaitu ChAdOx1 yang dikembangkan Universitas Oxford dan Serum Institute of India, disebut bisa siap diuji dalam waktu dua bulan saja. Meskipun demikian, badan kesehatan global tersebut menyatakan bahwa data uji tambahan pada hewan masih tetap diperlukan untuk memastikannya.
Saat ini, satu-satunya vaksin yang telah disetujui untuk infeksi virus ini adalah Ervebo buatan Merck & Co., yang menyasar strain Zaire sebagai varian paling umum. WHO merekomendasikan agar Ervebo tidak diberikan di luar lingkungan penelitian karena bukti manfaatnya melawan strain Bundibugyo masih terbatas dan belum meyakinkan.
Di sisi lain, pengobatan dari Regeneron merupakan bagian dari koktail tiga antibodi bernama Inmazeb yang telah mendapat persetujuan regulator Amerika Serikat untuk mengobati strain Ebola berbeda. Pihak Regeneron menambahkan bahwa pasokan Inmazeb sudah tersedia di Kongo jika WHO bersedia menggunakannya untuk pengobatan segera.
Perusahaan ini tercatat memiliki riwayat dalam mengembangkan perawatan untuk krisis kesehatan masyarakat. Salah satu momen yang dikenal adalah saat Presiden Donald Trump menerima pengobatan antibodi dari perusahaan tersebut ketika terinfeksi Covid-19 pada masa jabatan pertamanya.