YLKI dan FKBI Desak Pemerintah Jamin Keamanan Tabung CNG 3 Kg

Share

Rencana pemerintah melakukan transisi penggunaan liquefied petroleum gas (LPG) ke compressed natural gas (CNG) berkapasitas 3 kilogram mendapat peringatan tegas dari perwakilan konsumen terkait aspek keselamatan publik.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menekankan agar pemerintah menjamin keamanan konsumen dan tidak menjadikan masyarakat sebagai objek eksperimen dalam proyek baru ini. Ketua Pengurus Harian YLKI Niti Emiliana menegaskan wajib adanya kajian mendalam serta pengujian komprehensif sebelum kebijakan masifikasi CNG 3 kg ditetapkan karena faktor keselamatan tidak dapat ditawar.

"Jaminan keamanan produk tidak bisa dilonggarkan. Perlu ditentukan standar tekanan gas, bahan tabung yang aman, dan mampu menahan tekanan gas dengan baik," ujar Niti Emiliana, Ketua Pengurus Harian YLKI saat dihubungi, Rabu (8/7/2026).

Selain masalah keamanan, keterjangkauan harga dan kemudahan akses bagi masyarakat luas turut menjadi sorotan utama. Niti meminta nilai keekonomian bahan bakar baru ini disesuaikan dengan daya beli masyarakat agar tidak memicu beban ekonomi baru.

"Kalau bisa lebih murah [dari LPG 3 kg] akan sangat bagus, tetapi paling tidak setara. Jangan sampai harganya melampaui harga LPG yang sekarang," tambah Niti Emiliana, Ketua Pengurus Harian YLKI.

Peringatan serupa datang dari Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi yang meminta pemerintah belajar dari sejarah migrasi minyak tanah ke LPG 3 kg beberapa tahun lalu. Menurutnya, minimnya mitigasi di awal pemberlakuan kebijakan terdahulu memicu rentetan kasus ledakan gas yang menimbulkan korban jiwa.

"Pemerintah harus sangat hati-hati, harus memastikan bahwa secara fisik tabungnya aman, dan harus ada upaya mitigasi jika terjadi kecelakaan. Jangan sampai seperti kasus LPG 3 kg di awal pemberlakuan, banyak kasus ledakan gas yang menewaskan puluhan orang," kata Tulus Abadi, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) saat dihubungi, Senin (6/7/2026).

Untuk mengantisipasi hal tersebut, FKBI menuntut adanya uji coba serta sosialisasi yang masif dan intensif agar konsumen memahami cara penggunaan yang aman. Di samping itu, Tulus juga mengingatkan dampak makroekonomi jika komponen infrastruktur CNG bergantung pada komoditas impor dan menyarankan pemerintah mendorong manufaktur lokal untuk memproduksi tabung secara mandiri.

"Idealnya industri dalam negeri juga didorong membuat tabung CNG, sehingga tidak harus impor. Dengan impor yang masif tabung CNG, akhirnya devisa tergerus," jelas Tulus Abadi, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI).

Sebelum munculnya desakan ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) telah melakukan uji coba tabung CNG 3 kg atau CNG Merah Putih. Berdasarkan unggahan resmi Lemigas, tabung tersebut berbentuk silinder dengan bagian bawah datar, memiliki pegangan tangan berwarna merah yang menyatu dengan badan tabung berwarna putih, serta dilengkapi lubang ventilasi berpola sarang lebah yang berbeda dengan desain tabung LPG 3 kg.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman sempat meninjau langsung fasilitas pengujian laboratorium tersebut bersama perwakilan PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PT Pertamina Patra Niaga, PT Gagas Energi Indonesia, PT Pindad, dan PT Genko. Laode mengungkapkan bahwa CNG Merah Putih bakal menggunakan tabung tipe 4 dari bahan plastik atau polimer yang dibungkus komposit serta fiberglass, dan memastikan penggunaannya untuk rumah tangga tidak memerlukan penggantian kompor.

“Dan apinya lebih panas juga, apinya tetap lebih biru malah kalau saya perhatikan seperti itu. Nah, itulah yang sekarang makanya Lemigas dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kita lakukan, kemudian uji tekan, dan lain-lain ini memang faktor yang paling penting,” kata Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM dalam diskusi publik di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026).

Kementerian ESDM juga berencana mendatangkan pasokan tabung dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan fase awal. Sebanyak 100.000 unit tabung CNG 3 kg akan diimpor dari China karena industri dalam negeri saat ini dinilai belum memiliki kemampuan teknologi yang memadai untuk memproduksinya.

"Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kita belum," ujar Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM di Kantor Kementerian ESDM, Senin (18/5/2026).

"Iya [impor dari China], seperti itu tahap awal ya," tambah Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author