Presiden Zelensky Menolak Pemilu Ukraina Saat Perang Menghadapi Rusia

Share

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menilai penyelenggaraan pemilihan umum di tengah situasi perang melawan invasi Rusia sangat berbahaya bagi keselamatan negaranya. Hal tersebut ditegaskan Zelensky dalam taklimat bersama jurnalis pada Sabtu, 22 Agustus 2026, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Pernyataan tersebut dikeluarkan usai mantan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov menyerukan agar proses pemungutan suara tetap digelar. Ukraina sendiri telah resmi menangguhkan pemilu di bawah aturan darurat militer sejak invasi Rusia dimulai pada 2022, sebuah kebijakan yang mendapat dukungan luas dari masyarakat.

Zelensky menegaskan bahwa menggelar pemungutan suara di tengah konflik bersenjata memiliki risiko tinggi bagi keutuhan negara.

"Saya yakin bahwa dalam perang seperti ini, pemilihan umum merupakan risiko yang sangat besar. Pemilu saat ini ibarat tsunami bagi negara yang akan memecah belah Ukraina," ujar Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Pemimpin berusia 48 tahun yang menjabat sejak 2019 tersebut menambahkan bahwa langkah mengadakan pemilu saat perang justru dapat merusak stabilitas dalam negeri.

"Jika kita ingin menghancurkan negara ini, maka kita bisa melangkah ke arah penyelenggaraan pemilu di masa perang seperti sekarang," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Pertemuan Zelensky dengan media massa menjadi momen pertama dalam beberapa bulan terakhir di tengah gejolak politik dalam negeri. Gelombang protes massa sempat terjadi setelah Zelensky mencopot Mykhailo Fedorov dari jabatan menteri pertahanan.

Sebelumnya, Fedorov sempat menyuarakan pelaksanaan pemilu tanpa menyertakan peta jalan yang jelas, sehingga memicu kekecewaan di kalangan pendukungnya. Sejumlah ahli menilai pelaksanaan pemilu sulit diwujudkan lantaran terkendala keterlibatan jutaan pengungsi, hak pilih prajurit di garis depan, serta ancaman disinformasi dari Rusia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author